Archive for December, 2007

Kontemplasiku bwt Kampsku…

Tuesday, December 4th, 2007

Cerpen 04 Desember 2007

Hari ini 18 tahun sejak hari ini. Senja sejuk berangin sepoi-sepoi, dibangku depan rumah aku tengah duduk. Tersaji kopi pahit hidangan istri. Kepul asap rokok senantiasa menemani lebih setia ketimbang istriku yang senang menyulam menunggu maghrib.

Asap itu selalu sama dari 24 tahun sejak aku mulai menjepit sebatang rokok, di gubuk sawah sehabis bakar ikan bersama anak sebaya satu sekolah. Ada memori yang hilang tentang persis rokok apa waktu itu. Karena rokok zaman sekarang berbeda dengan kampanye merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin semenjak aku terbiasa merokok. Jargon itu membekas di bawah sadar ketika melihat rokok, tapi semua itu choice-ku atau choice-mu. Maka perkembangan rokok jauh melejit bila dibandingkan angka penurunan jumlah penduduk Indonesia yang masih miskin-miskin.

Pikiranku malah berputar balik semasa mahasiswa. Kerjaannya ngegame di komputer kosan. Kira-kira Pentium 4 yang bisa digunakan buat CS, FM, The Sim dan beribu Game Housenya. Kalau tidak, aktif di kegiatan kemahasiswaan yang kerjaannya rapat dan rapat buat bikin isu, kalau tidak, nongkrong bareng depan sekre ga ada kerjaan. Tak pernah lepas sekali pun dengan yang namanya rokok, rapat-ngegame-nunggu kuliah-nuggu pacar-nuggu angkot-pokoknya rokok is the best lah…

Ada yang hilang memang dengan memoriku tentang kepul asap itu. Meski karena rokok membuat kenangan yang tak mudah diingat. Tapi betapa hebatnya kala itu, teman-teman sekre sedang menenun proses. Sama kayak istriku yang sedang menenun mahligai rumah tangga dengan si perokok ini.

Duh…..uhhh, sore itu begitu indah dengan anak sesekre. Bercanda mesra bak para penghuni sorga mempertontonkan kemujuran hidup bersama. Meski over loadded, tak membuat kami berhenti kepengin bercengkrama, beraktivitas, berteman dan duduk bersama dalam lingkaran proses.

Saat ini aku menyadari betapa hebatnya kami dulu. Panglima kampus, pahlawan dengan senjata nekatnya. Tidak ada yang lebih utuh selain aura kami waktu itu. Yah….itu masa lalu yang tak luput dikenang untuk menjaga kebanggaanku kini.

Terawanganku kini sedang ada di Unsoed lagi. Minggu depan bersama istri muda yang juga adik kelas di kampus, berencana mengunjungi teman-teman semasa kuliah pada grubyuk sengok XV.

Jadi itung-itung mencicipi harum suasana kesekretariatan mahasiswa, plus mengenang pertemuan dengan si istri kedua. Wajar apabila aku lebih mesra dengan istri kedua daripada istri satu yang sudah agak bau, agak ndut ga beraturan dan udah kurang mesranya, apalagi rokok yang sudah aku habiskan berjuta-juta batang. Dia dulunya anak Akuntansi yang terkenal cantik dan aduhai. Semua orang menyenanginya, ga cuma mahasiswa, dosennya juga…kalau gak sekedar body-nya, ya, paling wajahnya yang rupawan.

Tidak kusangka, kembang kampus primadona dosen pengajarnya, akhirnya jatuh juga di pelukan kakanda yang tampan ini. Dosennya padahal ganteng, tampang educate lagi. Tapi apa daya, kalau dosen selingkuh kan bakalan dipecat. Dulu juga ada dosen yang macem-macem sama mahasiswanya, eh…didemo abis-abisan. Pakai alasan moral gak mempan, kurang, disuruh turun dari posisi pentingnya, politislah…akhirnya. Tak kalah pula, dibantahnya diplomatis sekaliber pembubar massa, kinerjanya harus dilipatgandakan biar jurdil. Maksudnya, meski kurang jujur tetep jangan diadili, begitu celoteh yang berkembang waktu itu. Akhirnya semua bungkam, mahasiswa tak berkutik, tidak ada lagi demo-demoan gak jelas.

Kabut senja mulai meresap, sore itu semakin dingin…. tidak ada sunset, awan di atas sana terlalu tebal menyelimuti misteri.

“Mas, gak ikut pengajian tuh…”. pertanyaan istri pertama dari ruang samping menggugah lamunan.

“ehm..gak ah, lagi lemes”. Celetukku.

“Napa sih slaluuu..uu aja lemes kalo giliran ngaji, tuh malu kan ama tetangga kita yang istrinya tiga, punya selingkuhan lagi, satu…”.

“Diam kau..” Ledekku. “mengaji diri lebih penting dari mendengarkan ceramah mbahmu itu”.

“Hu..uuuh”.

Aku menyeruput kopi yang sudah dingin. Burung pipit menghampiri pelataran, bergerombol. Yang tertinggal hanya satu, entah mencari apa. Hinggap di bongsaiku.

“cit..cit..cit..”.

Aku menyalakan rokok lagi, tambah enak saja berkontemplasi.

Rokok ini sempat mengelabui teman-teman 18 tahun yang lalu itu. Istri keduaku tidak ikut-ikutan, hanya mahasiswa seksi yang senang berdandan. Menolak segala macam branding rokok, memojokkan perokok dan hiburan kampus beriklan rokok. Aku juga tidak ikut-ikutan, hanya memahami kondisi mahasiswa.

Waktu itu, mahasiswa tidak mampu mencari uang buat kegiatannya. Makanya mengendus sana-sini, ada yang idealis juga yang jor-joran. Semua berjalan begitu saja, yang idealis memang ditumbuhkan seniornya. Yang jor-joran, sudah kebiasaan. Tidak ada yang membedakan diantara mereka. Tapi merasa paling bener satu sama lain.

Emang itu namanya mahasiswa, merasa paling jago dan paling hebat.

Aku tidak ikut-ikutan, hanya memahami kondisi.

Kalau aku meloncat ke grubyuk sengok XV kedepan, aku membayangkan istri mudaku selingkuh dengan dosennya dulu. Aku akan menghujat, tapi tidak menghasut mahasiswa. Lewat peradilan saja, cukup manusiawi sepertinya. Sesudahnya aku akan mencintai istri tuaku, pasalnya dia selalu mengingatkan kebaikan. Dan aku ingin mencintainya kembali.

Grubyuk sengok…memang harapan semuanya, menumbuhkan kembali naluri masa lalu. Menciptakan sesuatu atau memberikan sesuatu. Satu petuah sebagai alumni yang sudah sukses sepertiku, tidak ingin memberikan materi. Tapi sesuatu yang berguna bagi mahasiswa seperti aku dulu.

Novel Itu Tak Sekedar Tirmidzi

Tuesday, December 4th, 2007

26 Novembar 2007, CERPEN : Novel itu tak sekedar Tirmidzi

“Pecahakan saja gelasnya biar ramai….” tukasku sambil mencibir.
“Biar mengaduh sampe gaduh…” hentaknya.
Pertengkaran dengan teman perempuanku malam itu sengaja aku ingat kembali. Lil emang bukan wanita kencan, hanya mahasiswi suci yang asyik menghabiskan kepenatan pikiran sembari minum kopi bersamaku di kos, sementara aku menambahkan kehangatan dengan rokok. Tidak pernah kami berbuat macam-macam, meskipun kata orang “tidak ada pertemanan sejati diantara dua orang yang berlawanan jenis, kecuali ada maksud tertentu didalamnya”. Bagiku ini tantangan untuk tes iman. “Cieee…” walaupun iman dibikin dari nafsu yang terpinggirkan. “emang kasihan tuh iman….”
Tadi siang aku berpapasan dia disekre. Aku memulai senyuman, tapi dia diam. Kita saling menghentikan langkah, “kok jadi kikuk ya…” pikirku.
“ehm..mm, Waz aku minta maaf” tiba-tiba dia memulai pembicaraan.
“gelas itu gak pernah pecah…” tukasku dengan santai dan senyum kebaikan.
“ntar malem ngga gaduh kan?”
“emmhh..biasa, jam delapan ajah”
“ok” dia mengakhiri dengan gaya Amerikanya, lalu masuk sekrenya.
Tidak ada penantian, karena bukan kencan. Seperti biasa aku menyiapkan kopi lima menit sebelum janji. Aku tidak berspekulasi menunggu dinginnya kopi, sebab dia wanita baik yang tepat waktu. Kata orang dia ukhti karena berjilbab besar tertutup, tapi buatku dia pecinta keterbukaan yang orang-orang tidak tahu sampai sedalam-dalamnya cara berfikir Lil.
Lil sebaik-baik teman yang pernah aku temukan seumur hidup.
Jam delapan tepat seperti biasa dia datang, tak lupa membawakan aku rokok tiga batang sekedar menghangatkan obrolan. “haaiii…”
Aku sengaja duduk disofa lebih awal sembari baca artikel yang aku save di handphone. “dualah si enëng…makin cantik ajah” godaku.
“Kebiasaan tuh, ga bakalan ketipu kok…”
Aku hanya nyengir.
“ni rokok buat kakanda”
“Kebiasaan tuh, ga bakalan ketipu kok…”
Kami tertawa bareng-bareng. Mungkin menghina diri sendiri, atau mungkin karena enjoy dengan kesan pertama yang kesekian kalinya tetap begitu menggoda.
Tanpa aku berkenan dia mulai duduk. Menyeruput kopi yang mulai hangat.
Aku menyalakan rokok yang dia sodorkan, tanpa sedikitpun terusik dari handphone. Beberapa menit tak ada obrolan, dia sendiri membaca novel yang diambil dari kamarku.
Sesekali dia bergumam saking asyiknya menghayati novel itu.
“ihhh”
Atau,
“wahhh..keren gila!”
“dasar”
Gumamku berbeda dengan dia.
“Oh, jadi..”
Atau, hanya mangut-mangut.
“cek,cek,cek”
***
Kami memahaminya sesi kedua. Dia menyeduh kopi yang kedua. Sementara aku membeli rokok yang selalu tak cukup untuk sekedar mengobrol.
“Aku heran dengan kau, mana ada gelas yang tak pernah pecah” Lil mencoba memancing aku pernyataan gak jelas siang tadi.
“Ooh, itu.. ga usah dbahaslah. Aku sendiri tidak meyakininya. Aku hanya ingin kita baik-baik saja. Kau ingat? Tempo hari aku menyentuh kucing yang sedang tidur, akhirnya menggigit kan. Begitupun dunia yang kau sanggah why didn’t rotate counter clockwise”.
Ndus
“Aku hanya berfikir lain Waz. Menyangkali eksperimental berfikir manusia, mungkin dan ga mungkin…ga salah toh!”
“Lah piye? Percuma dong kita berfikir pada garis post of post keadaan ini. Tidak berfikir apatis tapi menyadari segala sesuatu dan tidak mendestruksi keinginan orang. Seperti aku tidak mengajakmu menelanjangi yang tabu buat keluarga dan organisasimu. Aku yakin itu pilihan sadarmu”.
“Waz..ayo berfikir dekat, semisal; sbagian menghendaki PCW, sbagian tidak; sbagian menuntut pembubaran POM, sbagian tidak; sbagian fanatis, sbagian mencemooh; sbagian ikut UKM ato HIMA, sbagian mahasiswa umum apatis kuliah–kosan–lesehan–motor-motoran”.
“Iya iya iya. Ayo masukkan resistor diantarnya. Kan ada tuh..Peraturan daerah tentang tata ruang kota; aturan pendanaan sekolah bagi masyarakat; hak mahasiswa memilih kegiatan, yang penting tujuannya lulus toh.. Gak kesendat sbagai aktivis propaganda alias tukang demo trus jadi antek birokrat biar jadi lulus ato macet ga bayar SPP ato minder karena pergaulan yang mulai tinggi setara biaya Unsoed lah..”.
“itu yang menjadi…”
“Penghantar klimaks keinginan semua pihak”. Aku memotongnya.
“Mungkin semuanya sialan, KECUALI KITA!!!”.
“hahahaha”. Kami tertawa sementara waktu menunjukkan sepuluh lima belas.
Malam semakin mencekam. Bayi tetangga merengek, seperti meminta ibu melayaninya.
“Memang ga ada yang lain?” Ujarku sambil menahan tawa. “Tidak ada deskripsi manusia atas manusia, yang ada cuma introspeksi diri dong…”
“Yah itu yang sering aku terima sebagai beban dalam organisasi. Tingkahnya menghakimi dan mengadili sambil berdalih kita golongan lurus. Akupun menyadari diri kami gak pernah jadi tukang angkut sampah atau semacam apalah itu..pekerjaan kotor secara fisik”.
“Kecuali big order kotor di sistem kan? Tukasku.
“Karena memang masih mahasiswa..”
“Gak bisa gitu dong, artinya itu sudah tidak realistis. Ngomongnya gede seolah praktisi bersih, tau sgala macem eh..ternyata hanya alasan moral !! Burung beo pun bisa”.
Aku melanjutkan perkataanku. “Dan gak pernah menindak salah yang nampak, yang deket sama yang terjangkau. Tuh…hentikan orang yang buang sampah sembarangan, luntang lantung ga da kerjaan. Katanya turunkan angka penganguran dan lindungi fakir miskin punya anak segudang, udah yatim terlantar lagi.. Ga cuma ceramah nëng !”
“serba salah dengan diriku?” Ketus Lil.
Beberapa saat hening. Aku hanya mengepul-ngepulkan asap sambil menyeruput kopi panas yang baru dia bikin.
“Kapan balik?”
“Udah setengah spuluh lewat ya..h” Dia menatap kosong rokokku “shut!!” Lil menggebrak hening itu. “Apa yang membuat tempo hari gaduh dan gelas akan pecah?”
“Atashi wakaranai” Jawabku sambil mengangkat bahu gaya Japanese.
“Kita semakin dekat…”
Rokokku habis.