Novel Itu Tak Sekedar Tirmidzi

26 Novembar 2007, CERPEN : Novel itu tak sekedar Tirmidzi

“Pecahakan saja gelasnya biar ramai….” tukasku sambil mencibir.
“Biar mengaduh sampe gaduh…” hentaknya.
Pertengkaran dengan teman perempuanku malam itu sengaja aku ingat kembali. Lil emang bukan wanita kencan, hanya mahasiswi suci yang asyik menghabiskan kepenatan pikiran sembari minum kopi bersamaku di kos, sementara aku menambahkan kehangatan dengan rokok. Tidak pernah kami berbuat macam-macam, meskipun kata orang “tidak ada pertemanan sejati diantara dua orang yang berlawanan jenis, kecuali ada maksud tertentu didalamnya”. Bagiku ini tantangan untuk tes iman. “Cieee…” walaupun iman dibikin dari nafsu yang terpinggirkan. “emang kasihan tuh iman….”
Tadi siang aku berpapasan dia disekre. Aku memulai senyuman, tapi dia diam. Kita saling menghentikan langkah, “kok jadi kikuk ya…” pikirku.
“ehm..mm, Waz aku minta maaf” tiba-tiba dia memulai pembicaraan.
“gelas itu gak pernah pecah…” tukasku dengan santai dan senyum kebaikan.
“ntar malem ngga gaduh kan?”
“emmhh..biasa, jam delapan ajah”
“ok” dia mengakhiri dengan gaya Amerikanya, lalu masuk sekrenya.
Tidak ada penantian, karena bukan kencan. Seperti biasa aku menyiapkan kopi lima menit sebelum janji. Aku tidak berspekulasi menunggu dinginnya kopi, sebab dia wanita baik yang tepat waktu. Kata orang dia ukhti karena berjilbab besar tertutup, tapi buatku dia pecinta keterbukaan yang orang-orang tidak tahu sampai sedalam-dalamnya cara berfikir Lil.
Lil sebaik-baik teman yang pernah aku temukan seumur hidup.
Jam delapan tepat seperti biasa dia datang, tak lupa membawakan aku rokok tiga batang sekedar menghangatkan obrolan. “haaiii…”
Aku sengaja duduk disofa lebih awal sembari baca artikel yang aku save di handphone. “dualah si enëng…makin cantik ajah” godaku.
“Kebiasaan tuh, ga bakalan ketipu kok…”
Aku hanya nyengir.
“ni rokok buat kakanda”
“Kebiasaan tuh, ga bakalan ketipu kok…”
Kami tertawa bareng-bareng. Mungkin menghina diri sendiri, atau mungkin karena enjoy dengan kesan pertama yang kesekian kalinya tetap begitu menggoda.
Tanpa aku berkenan dia mulai duduk. Menyeruput kopi yang mulai hangat.
Aku menyalakan rokok yang dia sodorkan, tanpa sedikitpun terusik dari handphone. Beberapa menit tak ada obrolan, dia sendiri membaca novel yang diambil dari kamarku.
Sesekali dia bergumam saking asyiknya menghayati novel itu.
“ihhh”
Atau,
“wahhh..keren gila!”
“dasar”
Gumamku berbeda dengan dia.
“Oh, jadi..”
Atau, hanya mangut-mangut.
“cek,cek,cek”
***
Kami memahaminya sesi kedua. Dia menyeduh kopi yang kedua. Sementara aku membeli rokok yang selalu tak cukup untuk sekedar mengobrol.
“Aku heran dengan kau, mana ada gelas yang tak pernah pecah” Lil mencoba memancing aku pernyataan gak jelas siang tadi.
“Ooh, itu.. ga usah dbahaslah. Aku sendiri tidak meyakininya. Aku hanya ingin kita baik-baik saja. Kau ingat? Tempo hari aku menyentuh kucing yang sedang tidur, akhirnya menggigit kan. Begitupun dunia yang kau sanggah why didn’t rotate counter clockwise”.
Ndus
“Aku hanya berfikir lain Waz. Menyangkali eksperimental berfikir manusia, mungkin dan ga mungkin…ga salah toh!”
“Lah piye? Percuma dong kita berfikir pada garis post of post keadaan ini. Tidak berfikir apatis tapi menyadari segala sesuatu dan tidak mendestruksi keinginan orang. Seperti aku tidak mengajakmu menelanjangi yang tabu buat keluarga dan organisasimu. Aku yakin itu pilihan sadarmu”.
“Waz..ayo berfikir dekat, semisal; sbagian menghendaki PCW, sbagian tidak; sbagian menuntut pembubaran POM, sbagian tidak; sbagian fanatis, sbagian mencemooh; sbagian ikut UKM ato HIMA, sbagian mahasiswa umum apatis kuliah–kosan–lesehan–motor-motoran”.
“Iya iya iya. Ayo masukkan resistor diantarnya. Kan ada tuh..Peraturan daerah tentang tata ruang kota; aturan pendanaan sekolah bagi masyarakat; hak mahasiswa memilih kegiatan, yang penting tujuannya lulus toh.. Gak kesendat sbagai aktivis propaganda alias tukang demo trus jadi antek birokrat biar jadi lulus ato macet ga bayar SPP ato minder karena pergaulan yang mulai tinggi setara biaya Unsoed lah..”.
“itu yang menjadi…”
“Penghantar klimaks keinginan semua pihak”. Aku memotongnya.
“Mungkin semuanya sialan, KECUALI KITA!!!”.
“hahahaha”. Kami tertawa sementara waktu menunjukkan sepuluh lima belas.
Malam semakin mencekam. Bayi tetangga merengek, seperti meminta ibu melayaninya.
“Memang ga ada yang lain?” Ujarku sambil menahan tawa. “Tidak ada deskripsi manusia atas manusia, yang ada cuma introspeksi diri dong…”
“Yah itu yang sering aku terima sebagai beban dalam organisasi. Tingkahnya menghakimi dan mengadili sambil berdalih kita golongan lurus. Akupun menyadari diri kami gak pernah jadi tukang angkut sampah atau semacam apalah itu..pekerjaan kotor secara fisik”.
“Kecuali big order kotor di sistem kan? Tukasku.
“Karena memang masih mahasiswa..”
“Gak bisa gitu dong, artinya itu sudah tidak realistis. Ngomongnya gede seolah praktisi bersih, tau sgala macem eh..ternyata hanya alasan moral !! Burung beo pun bisa”.
Aku melanjutkan perkataanku. “Dan gak pernah menindak salah yang nampak, yang deket sama yang terjangkau. Tuh…hentikan orang yang buang sampah sembarangan, luntang lantung ga da kerjaan. Katanya turunkan angka penganguran dan lindungi fakir miskin punya anak segudang, udah yatim terlantar lagi.. Ga cuma ceramah nëng !”
“serba salah dengan diriku?” Ketus Lil.
Beberapa saat hening. Aku hanya mengepul-ngepulkan asap sambil menyeruput kopi panas yang baru dia bikin.
“Kapan balik?”
“Udah setengah spuluh lewat ya..h” Dia menatap kosong rokokku “shut!!” Lil menggebrak hening itu. “Apa yang membuat tempo hari gaduh dan gelas akan pecah?”
“Atashi wakaranai” Jawabku sambil mengangkat bahu gaya Japanese.
“Kita semakin dekat…”
Rokokku habis.

Leave a Reply