Membekas Bukan Rekaman
Monday, April 28th, 2008Akhirnya aku menemukan dalam ketidakberdayaan. Semua yang ada, penuh berarti meski tak lain itulah harapan. Siapapun tidak ada yang mempercayai, seperti kepercayaan yang tertanam ini bukan untuk dipercayai, namun inklusif dalam pemaknaannya.
Hikayat bukanlah satu cerita, melainkan kisah berkeping terpungut. Lalu terdiam aku membaca gubahan syair pujangga, bukan pula sajak hidup. Semuanya mati karena dia tak bernyawa lagi, hanya aku. Dan ada yang mencoba menjemput kematian.
Dalam pembaringan ini lelah yang terasa. Roh ajali mengiyakan, kiranya yang kurasakan adalah kelelahan, masih jauh untuk menutup hari. Setengah tengadah aku murkai langit-langit kamar. Sebab tak menyadarkan kalau hari hujan, ingin sekali diguyur alam penghujan.
Apa sebab, takut pun tak bergeming. Apa akibat, tetap saja terdiam. Lorong itu mengingatkan, untuk selalu termenung gelap yang sama. “Ini karunia”, pekikku. Tak tahu kalau Tuhan pun mempersalahkan hamba seperti begini.
Seperti kebenaran, namun kebohongan sejati. Tak bisa kau bedakan mana maksud. Ini dan itu sudah kita bicarakan, tetap saja tidak terdefinisi. Sebab kebenaran tak pernah terucap, apalagi oleh makhluk yang penuh tipu daya seperti kita.
Kesaksian, apakah perlu?
Bukan, bukanlah itu.
Dunia ini tak ada yang maya. Semuanya begitu dekat terjadi, hanya tak dapat diraba. Namun kusaksikan, adakalanya akupun terbengong atau tercengang bila kau disamping pundak lebar ini yang tak kunjung kau rebahkan duka lukamu.
Derita. Kita sering membicarakannya, tentang sesuatu yang kita sendiri tak melihatnya. Itulah kemayaan yang itu-itu juga. Lambat laun semua menjadi mitos, pada gilirannya pencerahan datang tanpa meninggalkan jejak yang lusuh tanpa badai asmara. Hanya dunia yang terhentak oleh tingkah, apa pula artinya untuk kita.
Kita hanya memiliki segumpal hati saja, untuk disumbangkan kepada yang mulia ketidakadilan, yang menjadi penghambaan orang-orang dalam pembicaraan, atau masih terinspirasi untuk dibicarakan dalam gosip antar kamar. Mungkin saja tentang aku yang sedang terbaring sebagai pesakitan gila. Gila karena orang hanya menyebutnya gila. Entah dari mana gila sendiri menjadi sebuah penisbatan.
Hanya bisa kurekam kalau aku ini mempertanyakan kegilaan itu sendiri. Percuma, tak ada yang dapat aku katakan gila dalam kehidupan ini, selain cikal keharuman yang terpatri dalam kesejatian wujudmu. Semuanya akan berlalu begitu saja. Andai mereka merasakan yang kurasakan, kau hanya cukup mendurhakai kecintaan itu sendiri. Bagaimana mungkin kita mengetahui, aku bukanlah satu-satunya yang tak mengerti kalau hari ini begitu menggugah. Lambat laun menjadi bumerang untuk kesalahpahaman yang terjadi.